Info Wisata dan Travel? Cuma di Infotravell.com

Ichwan Azhari : Menelusuri Perdagangan Manik – Manik Kuno Di Bali

18

INFOTRAVELL.COM. Saya sudah lama penasaran ingin mengetahui rantai perdagangan manik manik kuno Indonesia yang lari ke luar negeri lewat Bali. Saya selalu mendengar langsung bahwa ke Balilah para pedagang ini menjual manik manik, mulai dari kisah pedagang pengumpul manik manik kuno asal situs Bulu Cina Hamparan Perak Sumatra Utara, pedagang manik manik di Palu (Sulteng) maupun pemburu manik-manik dari Bondowosa (Jatim).

Kemarin (10/07) saya mendapat peluang mewawancarai seorang pedagang manik manik Bali di Den Pasar. Pedagang itu bersedia saya undang wawancara di lobby Beach Hotel Kuta tempat saya menginap (hotel dengan arsitek dan dibangun atas upaya Bung Karno , sekalipun tak sempat menginap karena keburu dilengserkan, tapi di hotel ini ada kamar keramat Bung Karno).

Pedagang manik manik itu datang tentu bukan semata untuk wawancara tapi mengharap juga lah dia , saya membeli manik maniknya. Dia bawa manik manik berasal dari luar Bali, dari era prasejarah (manik manik bekal kubur) sampai ke manik manik kuno asal Timur Tengah. Joko, nama yang saya berikan untuk pedagang ini, sudah 20 tahun menjadi pedagang manik manik di Den Pasar dan mengetahui rantai perdagangan manik manik dari situs kuno luar Bali sampai ke pedagang yang menjualnya ke kuar negeri. Saya takzim mendengar dan mencatat uraiannya sambil.menahan air liur berapa lah yang bisa saya beli dari manik manik bernilai puluhan juta yang di tebar nya di meja lobby Beach Hotel ini.

Saya bertanya bodoh, apakah ada pejabat pemerintah RI dari kasta pusat sampai daerah (yang punya otoritas pada penyelamatan warisan sejarah) pernah membeli manik manik ini untuk museum? Pertanyaan bodoh , karena saya sudah tahu jawabannya : “geleng kepala”.

Penulis (Kiri) bersama Joko (Kanan)

Tapi ada yang menggembirakan, Joko berkata bahwa berkah uang pariwisata yang trilliunan masuk ke Bali memberi dampak juga pada para Pendeta Hindu. Mereka ini membutuhkan dan mencari warisan kuno berkaitan ritual ritual keagamaan termasuk manik manik yang dalam bahasa Bali disebut Ganitri.

Para Pendeta ini , menurut Joko mengetahui jenis jenis manik manik yang penting yang selama berabad abad dipakai dalam ritual keagamaan Hindu dan Budha di Indonesia.

Keterangan Joko membuat saya harus mengoreksi pendapat saya. Sebelumnya saya berpendapat warisan manik manik peradaban dunia yang ditemukan di berbagai situs di Indonesia segera lenyap lewat Bali.

Rupanya tidak semuanya, para pendeta Bali dan geliat keagamaan (berkah pariwisata yang memberi kemakmuran) secara tidak langsung menjadi penyelamat warisan sejarah ini lewat orang orang seperti Joko.

Baca Juga :

Saya akan datang lagi mencari tahu apa saja manik manik dari Sumatra yang “terselamatkan” di Pura dan Candi yang ada di Bali. Manik manik kuno kembali berfungsi sebagai sarana ritual di zaman Now Bali. Siapa tahu satu waktu nanti manik manik kuno asal Timur Tengah dijajadikan tasbih di kalangan ustadz dan tokoh Islam yang berpunya.

Walau pun sejatinya manik manik memiliki banyak fungsi , tidak hanya sebagai sarana ritual tapi juga sebagai perhiasan berkelas, mata dagangan dan juga investasi. Manik manik juga membantu membaca sejarah karya seni, kreatifitas teknologi, jalur perdagangan dunia. Dan bagi saya manik manik adalah sebuah teks sejarah.

Leave A Reply

Your email address will not be published.