Info Wisata dan Travel? Cuma di Infotravell.com

Kerajaan Haru : Puncak Eksistensi Masyarakat Karo di Sumatera Timur

18

INFOTRAVELL.COM. Kerajaan Aru atau Haru merupakan sebuah kerajaan yang pernah berdiri di wilayah pantai timur Sumatera atau Wilayah Provinsi Sumatera Utara sekarang. Terdapat indikasi bahwa penduduk asli Kerajaan Aru atau Haru berasal dari Suku Karo, seperti nama-nama pembesar Haru dalam Sulalatus Salatin yang mengandung nama dan Marga Karo.

Kerajaan ini di dirikan pada mulanya adalah kerajaan yang masih di pengaruhi ajaran Hindu Karo atau Agama Pemena dan dari ceritaq hikayat masyarakat Karo, Kerajaan ini pada mulanya didirikan oleh Putra Karo yang bernama Pa Lagan Ginting Munthe dan sejarah kerajaan ini sangat erat dengan sejarah Guru Pa Timpus Sembiring Pelawi dalam mendirikan Kota Medan.

Dalam perjalanannya Kerajaan Aru atau Haru setelah melepas pengaruh Hindu Karo atau Pemena dan beralih ke Pengaruh Islam, Kerajaan ini memakai adat Melayu, dan dalam Sulalatus Salatin para pembesarny menggunakan gelar-gelar Melayu seperti Raja Pahlawan dan Sri Indera. Namun adopsi terhadap adat Melayu ini mungkin tidak sepenuhnya, dan unsur-unsur adat non-Melayu (Karo) masih ada seperti penamaan nama istilah dalam kerajaan yang pengaruh Karo masih terlihat serta pemakaian Merga sebagai keturunan Karo.

Bangunan berAsitektur Karo dilingkungan Istana Maimoon

Setelah Kerajaan Aru atau Haru runtuh dan munculnya kerajaan kerajaan Karo di Sumatera Timur Pasca Kerajaan Besar Aru atau Haru yang berkaitan dengan penguasa Kerajaan pasca Aru atau Haru tidak dapat dipisahkan dengan peran lembaga Raja Berempat, yang menurut Peret (2010) telah ada sebelum pengaruh Aceh.

Raja 4 Suku yang kesemuanya adalah keturunan Karo itu adalah Kerajaan atau Raja Urung di pesisir ini meliputi Urung Sunggal, Urung Sepulu Dua Kuta, Urung Sukapiring dan Urung Senembah, yang masing-masing berkaitan dengan Raja Urung di dataran tinggi (Karo), yakni Urung Telu Kuru merga Karo-Karo), Urung XII Kuta (merga Karo-Karo), Urung Sukapiring (merga Karo-Karo) dan Urung VII Kuta (merga Barus).

Dalam kesempatan berikutnya, setelah kedatangan Gocah Pahlawan Panglima Aceh yang melakukan perkawinan dengan Nang Baluan Br Surbakti dari Kerajaan Urung Sunggal Serbanyaman, Maka berdirilah Kesultanan Deli yang merupakan sebuah kesultanan Melayu yang didirikan pada tahun 1632 oleh Tuanku Panglima Gocah Pahlawan yang menurut menurut Hikayat Deli, seorang pemuka Aceh bernama Muhammad Dalik berhasil menjadi laksamana dalam Kesultanan Aceh.

Muhammad Dalik, yang kemudian juga dikenal sebagai Gocah Pahlawan dan bergelar Laksamana Khuja Bintan (ada pula sumber yang mengeja Laksamana Kuda Bintan), adalah keturunan dari Amir Muhammad Badar ud-din Khan, seorang bangsawan dari Delhi, India. Gocah Pahlawan dipercaya Sultan Aceh untuk menjadi wakil bekas wilayah Kerajaan Haru.

Dalik mendirikan Kesultanan Deli yang masih di bawah Kesultanan Aceh pada tahun 1632. Setelah Dalik meninggal pada tahun 1653, putranya Tuanku Panglima Perunggit mengambil alih kekuasaan dan pada tahun 1669 mengumumkan memisahkan kerajaannya dari Aceh dan sejak itu maka di sepakati bahwa Raja Berempat berperan dalam penentuan calon pengganti Sultan di Deli dan Sultan Serdang, dengan menempatkan Raja Urung atau Datuk Sunggal sebagai Ulun Janji.

Sejarah Kerajaan Aru atau Haru yang merupakan kerajaan besar pada jamannya yang setara dengan Kerajaan Majapahit dan hal itu di buktikan dengan nama kerajaan Aru atau Haru sangat sulit di taklukkan Kerajaan Majapahit dan nama Kerajaan Aru atau Haru ini sangat jelas di sebutkan dalam kitab Pararaton (1336) dalam teks Jawa Pertengahan (terkenal dengan Sumpah Palapa) yang berbunyi:

Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompu, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa

Dalam bahasa Indonesia mempunyai arti :

Dia, Gajah Mada sebagai patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa, Gajah Mada berkata bahwa bila telah mengalahkan (menguasai) Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa, bila telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa”

Rumah Adat Karo / Haru pada masa lampau

Sebaliknya tidak tercatat lagi dalam Kakawin Nagarakretagama (1365) bahwa Kerajaan Aru atau Haru sebagai negara bawahan dan hal ini artinya bahwa kerajaan Aru atau Haru adalah kerajaan Merdeka, Berdaulat dan Mandiri sebagaimana tertulis dalam pupuh 13 paragraf 1 dan 2.

Sementara itu dalam Suma Oriental disebutkan bahwa kerajaan ini merupakan kerajaan yang kuat. Penguasa Terbesar di Sumatera yang memiliki wilayah kekuasaan yang luas dan memiliki pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh kapal-kapal asing. Dalam laporannya, Tomé Pires juga mendeskripsikan akan kehebatan armada kapal laut kerajaan Aru atau Haru yang mampu melakukan pengontrolan lalu lintas kapal-kapal yang melalui Selat Melaka pada masa itu.

Dalam Sulalatus Salatin, Kerajaan Aru atau Haru disebut sebagai kerajaan yang setara kebesarannya dengan Malaka dan Pasai. Peninggalan arkeologi yang dihubungkan dengan Kerajaan Haru telah ditemukan di Kota Cina dan Kota Rantang.

Terdapat perdebatan tentang lokasi tepatnya dari pusat Kerajaan Haru. Winstedt meletakkannya di wilayah Deli yang berdiri kemudian, namun ada pula yang berpendapat Kerajaan Aru atau Haru diu dekat Belawan sebagaimana di katakan Gilles. Sementara ada juga yang menyatakan lokasi Kerajaan Aru berada di muara Sungai Wampu (Teluk Haru/Langkat).

Baca Juga :

Dalam perjalanan Marco Polo pada tahun 1292 Kerajaan Aru atau Haru tidak disebutkan, diindikasikan adanya 8 (delapan) kerajaan di Pulau Sumatera yang seluruh penduduknya penyembah berhala.

Kunjungan ini bertepatan dengan pembentukan negara-negara pelabuhan Islam pertama. Beberapa kerajaan yang disebutkan Ferlec (Perlak), Fansur (Barus),Basman (Peusangan)-di daerah Bireuen sekarang- , Samudera (kemudian dikenal Pasai) dan Dagroian (Pidie). Tiga kerajaan lainnya tidak disebutkan. Sumber lain menambahkan Lambri (Lamuri) dan Battas (Batak).

Cerita tentang Kerajaan Aru atau Haru pertama kali muncul dalam kronik Cina masa Dinasti Yuan, yang menyebutkan Kublai Khan menuntut tunduknya penguasa Kerajaan Aru atau Haru pada Cina pada tahun 1282, yang ditanggapi dengan pengiriman upeti oleh saudara penguasa Haru pada tahun 1295.

Pengaruh Islam masuk ke kerajaan aru atau Haru paling tidak pada abad ke-13. Kemungkinan Aru atau Haru lebih dulu memeluk agama Islam daripada Pasai, seperti yang disebutkan Sulalatus Salatin dan dikonfirmasi oleh Tome Pires.

Gambar Oleh willemandrea.blogspot.com

Sementara peduduknya masih belum semua memeluk Islam, sebagaimana dalam catatan d’Albuquerque (Afonso de Albuquerque) (Commentarios, 1511, Bab XVIII) dinyatakan bahwa penguasa kerajaan-kerajaan kecil di Sumatera bagian Utara dan Sultan Malaka biasa memiliki orang kanibal sebagai algojo dari sebuah negeri yang bernama Aru atau Haru.

Dalam catatan Mendes Pinto (1539), dinyatakan adanya masyarakat ‘Aaru’ di pesisir Timur Laut Sumatera dan mengunjungi rajanya yang muslim, sekitar dua puluh tahun sebelumnya, Duarte Barbosa sudah mencatat tentang kerajaan Aru yang ketika itu dikuasai oleh orang-orang kanibal penganut paganisme. Namun tidak ditemukan pernyataan kanibalisme dalam sumber-sumber Tionghoa zaman itu.
Pada abad ke-15 Sejarah Dinasti Ming menyebutkan bahwa “Su-lu-tang Husin”, penguasa Haru, mengirimkan upeti pada Cina tahun 1411.

Setahun kemudian Haru dikunjungi oleh armada Laksamana Cheng Ho. Pada 1431 Cheng Ho kembali mengirimkan hadiah pada raja Haru, namun saat itu Haru tidak lagi membayar upeti pada Cina. Pada masa ini Haru menjadi saingan Kesultanan Malaka sebagai kekuatan maritim di Selat Malaka. Konflik kedua kerajaan ini dideskripsikan baik oleh Tome Pires dalam Suma Oriental maupun dalam Sejarah Melayu.

Pada abad ke-16 Haru merupakan salah satu kekuatan penting di Selat Malaka, selain Pasai, Portugal yang pada 1511 menguasai Malaka, serta bekas Kesultanan Malaka yang memindahkan ibukotanya ke Bintan.

Kerajaan Aru atau Haru menjalin hubungan baik dengan Portugal, dan dengan bantuan mereka Haru menyerbu Pasai pada 1526 dan membantai ribuan penduduknya. Hubungan Haru dengan Bintan lebih baik daripada sebelumnya, dan Sultan Mahmud Syah menikahkan putrinya dengan raja Haru, Sultan Husain.

Setelah Portugal mengusir Sultan Mahmud Syah dari Bintan pada 1526 Haru menjadi salah satu negara terkuat di Selat Malaka. Namun ambisi Haru dihempang oleh munculnya Aceh yang mulai menanjak.

Catatan Portugal menyebutkan dua serangan Aceh pada 1539, dan sekitar masa itu raja Kerajaan Aru atau Haru Sultan Ali Boncar terbunuh oleh pasukan Aceh. Istrinya kemudian meminta bantuan baik pada Portugal di Malaka maupun pada Johor (yang merupakan penerus Kesultanan Malaka dan Bintan). Armada Johor menghancurkan armada Aceh di Haru pada 1540.

Aceh kembali menaklukkan Kerajaan Aru atau Haru pada 1564. Sekali lagi Aru atau Haru berkat bantuan Johor berhasil mendapatkan kemerdekaannya, seperti yang dicatat oleh Hikayat Aceh dan sumber-sumber Eropa. Namun pada abad akhir ke-16 kerajaan ini hanyalah menjadi bidak dalam perebutan pengaruh antara Aceh dan Johor.

Kemerdekaan Kerajaan Aru atau Haru baru benar-benar berakhir pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda dari Aceh, yang naik tahta pada 1607. Dalam surat Iskandar Muda kepada Best bertanggal tahun 1613 dikatakan, bahwa Raja Kerajaan Aru atau Haru telah ditangkap beserta 70 ekor gajah dan sejumlah besar persenjataan yang diangkut melalui laut untuk melakukan peperangan-peperangan di Kerajaan Aru atau Haru.
Dalam masa ini sebutan Kerajaan Aru atau Haru berakhir dan di gantikan dengan Kerajaan atau Raja Urung Sepulu Dua Kuta, Sunggal, Sukapiring dan Senembah dan raja raja 4 suku ini di berikan wewenang penuh untuk mengangkat dan memberhentikkan Sultan Deli.

Wilayah Kerajaan Aru atau Haru kemudian mendapatkan kemerdekaannya dari Aceh pada 1669, dengan nama Kesultanan Deli yang di pimpin Panglima Gocah Pahlawan dan Permaisuri Nang Baluan Br Surbakti dari Kerajaan Urung Sunggal. Akibat perebutan Tahta Kerajaan maka terjadi sebuah pertentangan dalam pergantian kekuasaan pada tahun 1720 menyebabkan pecahnya Kesultanan Deli dan dibentuknya Kesultanan Serdang pada tahun 1723.

Raja Haru dan penduduknya telah memeluk agama Islam, sebagaimana disebutkan dalam Yingyai Shenglan (1416), karya Ma Huan yang ikut mendampingi Laksamana Cheng Ho dalam pengembaraannya.

Dalam Hikayat Raja-raja Pasai dan Sejarah Melayu disebutkan kerajaan tersebut diislamkan oleh Nakhoda Ismail dan Fakir Muhammad, yang juga mengislamkan Merah Silu, Raja Samudera Pasai pada pertengahan abad ke-13.
Sumber-sumber Cina menyebutkan bahwa adat istiadat seperti perkawinan, adat penguburan jenazah, bahasa, pertukangan, dan hasil bumi Haru sama dengan Melaka, Samudera dan Jawa.

Mata pencaharian penduduknya adalah menangkap ikan di pantai dan bercocok tanam.
Tetapi karena tanah negeri itu tidak begitu sesuai untuk penanaman padi, maka sebagian besar penduduknya berkebun menanam kelapa, pisang dan mencari hasil hutan seperti kemenyan. Mereka juga berternak unggas, bebek, kambing. Sebagian penduduknya juga sudah mengonsumsi susu.

Apabila pergi ke hutan mereka membawa panah beracun untuk perlindungan diri dan dalam bahasa Karo dinamakan Eltep. Wanita dan laki-laki menutupi sebagian tubuh mereka dengan kain, sementara bagian atas terbuka. Hasil-hasil bumi dibarter dengan barang-barang dari pedagang asing seperti keramik, kain sutera, manik-manik dan lain-lain. (Groeneveldt, 1960: 94-96)

Peninggalan arkeologi di Kota Cina menunjukkan wilayah Kerajaan Aru atau Haru memiliki hubungan dagang dengan Cina dan India. Namun dalam catatan Ma Huan, tidak seperti Pasai atau Malaka, pada abad ke-15 Haru bukanlah pusat perdagangan yang besar.

Kerajaan Aru atau Haru kalah bersaing dengan Malaka dan Pasai dalam menarik minat pedagang yang pada masa sebelumnya aktif mengunjungi Kota Cina dan era tersebut merupakan era mulai runtuhnya Kerajaan Aru atau Haru dan munculnya kerajaan kerajaan Karo dengan sebutan Raja Urung, Sibayak dan Perbapaan serta Pengulu Kuta dan puncaknya ketika tahun 1590 Guru Pa Timpus Sembiring Pelawi mendirikan kampung kampung yang di kenal dengan Sebutan Sepulu Dua Kuta dan menjadikannya sebuah Kerajaan dengan penyebutan Raja Urung Sepulu Dua Kuta dan Sukapiring serta lahir pula Raja Urung Sunggal Serbanyaman dan Senembah.

Tulisan ini merupakan catatan Roy Fachraby Ginting, SH, M.Kn
Dosen dan Staff Pengajar Ilmu Budaya Dasar USU 

Leave A Reply

Your email address will not be published.