Info Wisata dan Travel? Cuma di Infotravell.com

Ichwan Azhari : Siapa Manusia Asli Sumatera?

27

INFOTRAVELL.COM. Menjelang Pemilu biasanya orang banyak menanyakan apakah calon pemimpin atau legislatif putra asli atau pendatang di daerah pemilihan ini? Riset tes DNA terbaru yang dilakukan antara lain oleh Dr.Ketut Wiradyana (Kepala Balai Arkeologi Sumatra Utara) kini tidak ada penduduk asli. Kita adalah hasil pembauran berbagai gen dan unsur ras (Kompas, 13 Juli 2018).

Temuan terbaru (pertama di Sumatra) Kapak Beliung manusia purba ini, merupakan teka teki untuk menjelaskan, sebelum pembauran, siapa sebenarnya manusia asli Sumatra itu? Ataukah mereka yang mengembara di tepian sungai Deli Tua (dekat Medan) sekitar 3000-4000 tahun yang lalu itulah penduduk asli Sumatra Utara? Ataukah kita yang kini menghuni Sumatra hasil dari pembauran manusia yang mandi mandi di sungai zaman purba itu?

Sebilah kapak batu persegi ditinggalkan makhluk ini di dekat Medan, seakan sebuah teks mewartakan keberadaannya kepada manusia moderen.

“Aku ada di tepi sungai ini, 4000 tahun lalu, wahai keturunanku yang tak sudahnya bertikai tentang keberadaan asal usul leluhurnu”.

Kapak persegi ini panjang 11 CM lebar 5 CM berat 250 Gram. Saat ini di simpan di Museum Kotta Cinna Medan

Saya bertanya ke para arkeolog, mulai dari Ery Sudewo, Edward Mckinnon sampai ke Ketut Wiradyana atas temuan seorang petani di Benteng Putri Hijau , Deli Tua, sebagaimana dilaporkan mahasiswi saya Dena Lovita.

Ketiga arkeolog itu sepakat itu temuan langka, temuan pertama jejak manusia purba di Sumatra era neolitik (masa 1000-2000 tahun sebelum masehi).

Ketut Wiradyana menjelaskan secara detail ciri dan identitas kapak batu ini yang menegaskan ini jenis kapak Beliung (kapak persegi) yang sejauh ini baru ini ditemukan di Sumatra.

Kapak Beliung menurut Ketut berbeda dengan kapak batu Sumatra (Sumatralith) yang lebih tua (6000 tahun yang lalu). Sumatralith memperlihatkan capaian peradaban yang sangat sederhana, hanya batu yang dipecahkan menjadi semacam kapak genggam.

Baca Juga :

Tapi 4000 tahun yang lalu capaian peradaban manusia Sumatra lewat peralatan kampaknya sudah mulai maju, kapak persegi ini memperlihatkan capaian teknologi dan seni yang tinggi. Ada pahatan yang halus, ada pilihan batuan yang tidak sembarangan, ada pengambilan sudut yang artistik. Dan kata Ketut, ada sudut, yang kuat dugaan bekas tali pengikat kapak ini. Inilah kapak neolithic polished adze, temuan pertama di Sumatra.

Temuan tepi Sei Deli, tepat di bawah Benteng Putri Hijau. Saya mengenal betul tepian ini, bertahun tahun melintas kawasan ini, sejak 10 tahun lalu membawa mahasiswa dan para pakar, berjuang mempertahankan benteng Cagar Budaya ini agar tidak dihancurkan.

Dan kalah, dan hancur , dihancurkan para Developer yang mendapat izin para pejabat.

Wahai anak cucuku manusia Sumatra, aku titipkan artefakku untuk kau fahami, akulah leluhur penghuni pulau ini,  4000 tahun yang lalu aku telah ada di sini, mandi mandi di sungai Deli ini, di situs Benteng Putri Hijau, yang (atas nama keserakahan pembangunan), situs ku sudah kau hancurkan. Berkeping keping.

Tulisan ini adalah catatan : Dr. Phil. Ichwan Azhari (Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan)

Leave A Reply

Your email address will not be published.