Info Wisata dan Travel? Cuma di Infotravell.com

Roy Fachraby Ginting : Mengenal Wanita Karo Tempo Dulu

29

INFOTRAVELL.COM. Dalam buku The early years of a Dutch colonial mission: the Karo field Oleh Rita S. Kipp, menulis dan menyatakan bahwa ada 2 misi dari kontrolir ini, yaitu membuat perlindungan terhadap perkebunan-perkebunan yang menguntungkan di Deli karena adanya pembakaran bangsal-bangsal yang disebabkan oleh perang Aceh dan misi kristenisasi wilayah Batak yang masih beragama perbegu.

Dalam buku ini juga tercatat bahwa Carel J Westenberg diangkat sebagai kontrolir khusus untuk wilayah batak pertama. Menurut catatan sejarah Karo, untuk memperkuat misinya, maka Carel J Westenberg pun menikahi wanita Karo yang bernama Negel br Sinulingga.

Negel br Sinulingga bertemu dengan suaminya pertama kali di suatu acara pengadilan. Mereka mempunyai sebuah perusahan tembakau bernama Senembah Company.

Pada tahun 1893, diangkat juga yang serupa didaerah Damak Jambu (Serdang), yang menangani urusan-urusan orang-orang Karo dan Simalungun di Hulu Serdang dan Padang Bedagai agar mau masuk Hindia Belanda.

Pada tahun 1910 – 1913, menurut laporan timbang terima dari S.Van Der Plas, masa itu beliau menjadi assisten residen untuk Deli dan Serdang, menyatakan bahwa pengaruh islam lebih berhasil dibandingkan oleh Nederlansche Zending Genoopschap.

Untuk mengantisipasi hal ini, maka Belanda pun melakukan politik adu dombanya yaitu memperbesar permusuhan antara suku Karo, Simalungun dengan suku islam melayu di pesisir.

Sedangkan Belanda berpura-pura menjadi penengah dari pertikaian ini. Seperti di Serdang, Belanda meminta ditempatkan seorang zending pendeta sebagai penasehat kepada Sultan di Kerapatan serdang.

Hal ini ditolak mentah mentah oleh Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah. Karena perkembangan dakwah islam di wilayah Serdang pada waktu itu sangatlah pesat.

Apalagi setelah sultan membiayai perkumpulan Syairus Sulaiman, yang mana mufti Kerajaan Serdang, Syech Zainuddin, duduk didalamnya bersama Tengku Fachruddin untuk memajukan perkembangan islam di Serdang.

Baca Juga :

Demikian juga dalam tulisan Juara R Ginting yang menulis bahwa pada tahun 1904, Belanda mencaplok ‘Simalungun en Karolanden’ sebagai bagian ‘De Resident van Ooskust van Sumatra’ (Provinsi Pantai Timur Sumatra) yang beribukota di Medan.

‘Simalungun en Karolanden’ dipimpin oleh seorang controleur dengan ibu kota Seribu Dolok.

Sebelumnya, daerah Simalungun dan Karo ini disebut dalam laporan-laporan Belanda dengan istilah Zelfstandige Bataklanden (Batak Berdiri Sendiri/Batak Merdeka) karena dianggap bagian wilayah Bataklanden tapi tidak termasuk ‘De Resident van Bataklanden’ atau nanti bernama De Resident van Tapanoeli.

Yang dikatakan ‘Simalungun en Karolanden’ sebenarnya terbatas pada Simalungun Atas dan Karo Gugung. Simalungun Bawah dan Karo Jahe telah duluan menjadi bagian ‘De Resident van Ooskust van Sumatra’.

Sebagian Simalungun Bawah dianggap bagian dari Sultan Asahan dan sebagian lainnya bagian Sultan Serdang. Sebagian Karo Jahe dianggap bagian Sultan Langkat dan sebagian lainnya bagian Sultan Deli dan Sultan Serdang.

Pencaplokan Simalungun Atas dan Karo Gugung berkaitan erat dengan
perlawanan Datuk Sunggal (Karo-Karo Surbakti) terhadap perusahaan perkebunan asing di daerah Karo Jahe yang mendapat dukungan dari pemuda-pemuda Karo Gugung.

Pada tahun 1902, Datuk Sunggal tertangkap di hutan Nang Belawan (tetangga kampung Lingga). Lingga pecah dua.

Satu memihak Belanda dan menunjukan kepada Belanda tempat persembunyian Datuk Sunggal. Satu lainnya marah. Mereka membakar rumah-rumah mereka (rumah adat) dan mengungsi meninggalkan Lingga.

Sebelum pencaplokan Simalungun en Karolanden, ada lembaga yang disebut Urusan Batak Merdeka yang dipimpim oleh C.J. Westenberg.

Ketika Simalungun en Karolanden dicaplok, Westenberg ini diangkat menjadi controleur Simalungun en Karolanden. Dia beristerikan Seorang putri Karo yang bernama Negel br Sinulingga

Simalungunlanden dan Karolanden dijadikan di bawah pemerintahan 2 controleur. Controleur van Simalungunlanden berkedudukan di Seribu Dolok, dan controlur van Karolanden di Kaban Jahe.

C.J. Westenberg menentang pemekaran ini karena, menurutnya, Karo dan Simalungun secara tradisional tak mungkin dipisahkan. Menarik juga argumennya dan sangat antropologis.

Bila Simalungun dipisah dari Karo, di mana lagi taneh kalak Tarigan (?), katanya. Juhar? Itu memang kerajaan Tarigan (Sibero), tapi Taneh Juhar adalah Taneh Kalak Ginting Munte, katanya. Kalo tak punya taneh panteken, tak sah menjadi bagian society (Karo).

Memisahkan tanah dari kedua suku ini berarti menghancurkan society mereka (society harap dibaca bukan kumpulan manusia tapi sebuah sistim yang mengatur hubungan antara manusia).

Ambtenaar yang sangat antropologis, begitulah kesan-kesanku ketika minggu lalu membaca surat-surat pribadinya di rumah cucunya di Den Haag. Westenberg tak terbentuk. Dia terus mengkritik pemerintahnya. Akhirnya, dia dipromosikan menjadi resident (baca: gubernur) Tapanuli.

Selama jadi Gubernur dia sering berkunjung bersama istri dan anak-anaknya ke Tongging (dia bermerga Ginting Munte Tengging), Dokan (panteken Ginting Munte Ajinembah) dan Kabanjahe.

Ditanah Karo, Carel Westenberg turut berperan mendamaikan Sibayak Pa Mbelgah Purba dan Sibayak Pa Pelita Purba, Raja Kabanjahe yang bertikai di awal abad 20. (Belanda memutarbalikkan fakta ini agar bisa menduduki Kabanjahe dan Tanah Karo. Padahal menurut beberapa informasi, yang mendamaikan kedua Sibayak itu adalah anak berunya).

Karena itu, orang-orang Karo menyebutnya Tuan Siboga. Belum setahun dia menjadi gubernur, seperti Multatuli yang juga tak tahan atas perlakuan pemerintahnya, Westenberg mengundurkan diri dan kembali ke Den Haag membawa anak-anak dan istrinya si Negel.

Tak sampai 20 tahun kemudian, dia meninggal dunia dalam usia sekitar 50 tahun. Si Negel pulang ke Kabanjahe bersama seorag putranya Hans Westenberg yang nanti mendapatkan penghargaan Magsasay (hadiah nobel tingkat Asia) atas jasa-jasanya di bidang pertanian/ pengadaan pangan.

Dalam sebuah suratnya kepada ibunya, Westenberg menceritakan siapa istrinya itu.

Ayahnya terbunuh oleh Bapa Nguda dan Negel serta adiknya laki-laki diusir dari kampung. Di kampung tempatnya mengungsi, adiknya itu terbunuh dengan kepala dipenggal (karena menghamili pacarnya yang hendak dikawinkan dengan laki-laki lain).

Tidak ada orang berani menguburkannya. Negel sendiri menguburkannya. Dia mengadu ke polisi. Hingga sidang pengadilan, hadirlah Westenberg dan terperanjat melihat Negel lancar berbahasa Belanda.

Memberikan kesaksian di pengadilan dalam bahasa Belanda sambil meneruskan pekerjaannya menyulam dan Itulah pula yang membuat Westernberg jatuh cinta setengah mati kepadanya.

Kisah ini di sarikan dan di kutip dari ringkasan tulisan abang Juara R Ginting dari Negeri Belanda serta berbagai sumber tulisan sejarah dan kisah Negel Br Sinulingga

Salam mejuah juah

Tulisan ini adalah Catatan dari Roy Fachraby Ginting SH M.Kn
Dosen dan Staff Pengajar Ilmu Sosial dan Budaya Dasar Universitas Sumatera Utara

Leave A Reply

Your email address will not be published.